Disampingmembutuhkan waktu yang banyak, tingkat ketelitian untuk menentukan genotip dan fenotipnya juga dibutuhkan konsentrasi yang tinggi, maka dari soal jenis ini memiliki tingkat kesalahan mengerjakan yang tinggi jika tidak teliti dalam menyilangkannya. Berikut contoh persilangan dihibrid
Perhatikancontoh soal pewarisan sifat pada persilangan dihibrid beserta jawabannya berikut ini. Contoh Soal Pewarisan Sifat pada Persilangan Dihibrid beserta jawabannya Pilihan Ganda Soal No. 1 Jika warna biji kuning (K) dominan terhadap warna biji hijau (k) dan biji kisut (b) memiliki sifat lemah terhadap biji bulat (B). Maka persilangan antara tanaman berbiiji bulat warna kuning (BbKK)
Dalammenentukan genotip dan fenotip hasil keturunan, maka cara termudahnya adalah langsung dengan memasangkan alel antara kedua induk yang sealel, menghitung jumlahnya kemudian menggabungkan dengan alel lainnya yang bukan sealel dan mengalikan koefisiennya. Contoh 03
Aleladalah variasi atau bentuk alternatif dari gen-gen. Didalam materi ini kita juga mengenal istilah genotip dan fenotip. Genotip adalah pewarisan sifat yang tidak dapat terlihat oleh mata kita langsung. Fenotip adalah pewarisan sifat yang dapat terlihat oleh mata kita secara langsung. Jumlah kromosom pada tubuh manusia adalah sebanyak 23 pasang.
.
– Dalam persilangan dihibrid dominan resesif, jika f1 disilangkan sesamanya, maka akan diperoleh fenotipe f2 dengan perbandingan 9331. Namun, apa yang dimaksud dengan persilangan dihibrid? Pengertian persilangan dihibrid Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua indvidu dengan dua sifat yang dari Microbe Notes, persilangan dihibrid lebih kompleks daripada persilangan monohibrid karena melibatkan lebih dari dua sifat genetik sehingga orang tua dapat berupa homozigot maupun heterozigot. Persilangan dihibrid dilandasi oleh hukum II Mendel atau hukum asotasi tentang persilangan bebas yang berbunyi “Pada pembentukan gamet, setiap gen dapat bergabung atau berasortasi secara bebas”. Baca juga Perbedaan Antara Hukum Mendel 1 dan 2 Artinya, kedua sifat pada persilangan dihibrid tidak memengaruhi satu sama lain dan bisa diekspresikan secara bebas. Hal ini membuktikan bahwa gen terpisah pada lokus kromosom yang terpisah atau pada kromosom yang berbeda. Sehingga, kedua gen tidak terhubung. Orangtua persilangan dihibrid Seperti yang dikatakan di atas, orangtua persilangan dihibrid dapat berupa dua inividu yang homozigot ataupun heterozigot. Intinya, kedua orangtua harus memiliki dua sifat yang berbeda satu sama lain. Keturunan persilangan dihibrid Seperti persilangan monohibrid, keturunan persilangan dihibrid dapat berupa keturunan pertama F1 dan keturunan kedua F2. Bedanya, keturunan persilangan dihibrid lebih banyak dengan variasi fenotipe yang lebih tinggi. Baca juga Persilangan Intermediet Sejarah, Pengertian, dan ContohnyaContoh persilangan dihibrid Contoh persilangan dihibrid adalah persilangan dihibrid dominan resesif atau persilangan homozigot. Misalnya, tanaman berbiji bulat dan kuning dengan sifat dominan YYRR disilangkan dengan tanaman berbiji hijau dan kisut dengan sifat resesif yyrr. Pada persilangan tersebut, terdapat dua sifat yang berbeda yaitu tekstur dan warna biji. Keturunan pertama F1 Hasil persilangan antara dua individu yang mempunyai sifat beda tersebut adalah gamet heterozigot YyRr. Dilansir dari Lumen Learning, semua keturunan pertama F1 dari persilangan tersebut adalah 100 persen tanaman berbiji kuning dan dan bulat dengan fenotipe YyRr. Baca juga Praktikum Percobaan Persilangan Monohibrid dengan Kancing Keturunan kedua F2 Jika F1 disilangkan sesamanya, maka akan diperoleh fenotipe keturunan kedua F2 yang sesuai dengan hukum II Mendel. Dilansir dari Biology LibreTexts, perbandingan sifat F2 pada persilangan dihibrid dinyatakan dalam rasio fenotipe 9331. Untuk memahaminya, berikut adalah kotak punnett persilangan F1! Kotak punnet persilangan dihibrid tanaman berbiji kuning dan bulat YYRR dengan tanaman berbiji hijau dan kisut yyrr Dari kotak punnett tersebut terlihat bahwa persilangan dihibrid menghasilkan kemungkinan 12 gamet dengan perbandingan fenotipe 9331. Artinya, persilangan tanaman berbiji kuning dan bulat YYRR dengan tanaman berbiji hijau dan kisut yyrr akan menghasilkan keturunan kedua F2 berupa 9 tanaman berbiji kuning dan bulat 3 tanaman berbiji hijau dan bulat 3 tanaman berbiji kuning dan kisut 1 tanaman berbiji hijau dan kisut Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Pada artikel Biologi kelas XII kali ini, kamu akan mempelajari tentang persilangan monohibrid dan persilangan dihibrid pada Hukum Mendel. — Halo teman-teman yang di sana! Kamu, iya kamu! Siapa di antara kamu yang tahu siapa ilmuwan yang dijuluki sebagai Bapak Genetika Modern? Jawabannya pasti sudah ketebak ya saat kamu membaca judul artikel ini. Yup! Beliau adalah Mendel. Nama lengkapnya adalah Gregor Johann Mendel. Mendel menemukan bahwa pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya mengikuti suatu pola tertentu. Penemuan itulah yang sampai sekarang kita sebut dengan nama Hukum Mendel. Nah, Hukum Mendel ini dibagi menjadi dua nih, yang pertama adalah Hukum I Mendel dan yang kedua adalah Hukum II Mendel. Bunyi Hukum Mendel Gimana sih bunyi Hukum I Mendel dan Hukum II Mendel? Simak berikut ini yuk! Hukum I Mendel “Setiap alel dari gen yang sama akan berpisah atau bersegregasi secara bebas pada saat pembentukan gamet.” Hukum II Mendel “Setiap alel dari gen yang berbeda akan bergabung atau berasortasi secara acak pada saat pembentukan gamet.” Baca juga Pola-Pola Hereditas Perlu kamu ketahui, Hukum I Mendel disebut juga dengan hukum segregasi bebas. Kenapa? Karena pada hukum ini, alel-alel di dalam gen yang sama mengalami pemisahan segregasi secara bebas saat pembentukan gamet. Alel itu sendiri adalah variasi atau bentuk alternatif dari suatu gen yang terletak di lokus yang sama pada kromosom homolog. Di sisi lain, Hukum II Mendel disebut juga dengan hukum asortasi bebas karena alel-alel dari gen yang berbeda akan mengalami penggabungan asortasi secara bebas saat pembentukan gamet. So, jangan sampai tertukar ya. Nah, Hukum I Mendel dan Hukum II Mendel ini diterapkan pada proses persilangan yang akan kita bahas pada artikel kali ini. Yuk, langsung saja kita simak! Istilah-Istilah dalam Persilangan Sebelum kita masuk ke inti dari pembahasan kita, ada istilah-istilah dalam persilangan yang perlu kamu ketahui dulu nih. Supaya kamu nggak bingung, ayo kita kenali istilah-istilah tersebut. Apa saja ya? Ini dia! Oke, setelah kamu tahu apa saja simbol dan istilah-istilah dalam persilangan itu, sekarang yang harus kamu ketahui adalah bagaimana cara dalam menentukan gamet. Gamet yang akan kita ketahui adalah berapa jumlahnya serta apa jenisnya. Baca juga Mengenal Gen, DNA, dan Kromosom Cara Menentukan Gamet Nah, sekarang kamu sudah tahu macam-macam simbol, istilah, serta cara dalam menentukan gamet, nih. Berarti kamu sudah siap untuk masuk ke pembahasan yang kita nanti-nanti dari tadi. Daripada terlalu banyak nulis, mending langsung kita simak saja, yuk! Persilangan Monohibrid Persilangan monohibrid adalah persilangan dengan satu sifat beda. Maksudnya adalah pada persilangan ini, kita hanya memperhatikan satu sifat saja, seperti warna bunga merah, putih, dsb atau bentuk buah bulat, lonjong, dsb. Pada persilangan monohibrid berlaku Hukum Mendel I karena pada saat pembentukan gamet , alel-alel yang sebelumnya berpasangan akan mengalami pemisahan secara bebas dalam dua sel gamet. Secara bebas di sini maksudnya adalah pemisahan kedua alel tersebut tidak dipengaruhi atau mempengaruhi pasangan alel yang lainnya. Mendel melakukan persilangan monohibrid dengan satu sifat beda yang menunjukkan sifat dominansi yang muncul secara penuh dan sifat dominansi yang tidak muncul secara penuh intermediet. Baca juga Mengenal Hukum Mendel tentang Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup 1. Kasus dominansi penuh Persilangan pada kasus dominansi penuh akan terjadi apabila sifat alel yang satu dapat menutupi sifat alel yang lainnya. Akibatnya, sifat alel yang lebih kuat itu dapat menutupi sifat alel yang lemah. Dalam hal ini, alel yang memiliki sifat yang menutupi disebut alel dominan dan alel yang memiliki sifat yang ditutupi disebut alel resesif. Perhatikan contoh di bawah ini, ya. Persilangan antara bunga mawar merah MM dengan bunga mawar putih mm dengan alel M bersifat dominan penuh terhadap m. Lakukanlah persilangan sampai mendapatkan F2! Penyelesaian Berdasarkan persilangan di atas, kita bisa mengetahui perbandingan fenotipe dan genotipenya. Perlu diingat kalau fenotipe adalah sifat yang tampak. Jadi, berdasarkan hasil F2 kita bisa tahu kalau perbandingan fenotipenya adalah 3 1 3 sifat merah 1 sifat putih. Sedangkan, untuk perbandingan genotipenya diperoleh MM Mm mm = 1 2 1. 2. Kasus dominansi tidak penuh Intermediet Persilangan pada kasus intermediet terjadi apabila sifat dari salah satu alel tidak dapat menutupi sifat alel lain secara penuh. Akibatnya, individu heterozigot memiliki fenotipe intermediet di antara sifat kedua induknya. Perhatikan contoh di bawah ini. Persilangan antara bunga mawar merah MM dengan bunga mawar putih mm dengan M bersifat dominansi tidak sempurna terhadap m. Lakukanlah persilangan sampai mendapatkan F2! Penyelesaian Bagaimana nih? Sampai di sini paham ya? Kalau begitu, ayo kita lanjut ke jenis persilangan yang kedua, yaitu persilangan dihibrid. Baca juga Penyimpangan Semu Hukum Mendel Persilangan Dihibrid Jika pada persilangan monohibrid kita hanya memperhatikan satu sifat beda saja, maka pada persilangan dihibrid kita akan memperhatikan dua sifat beda. Misalnya warna buah dan bentuk buah, warna buah dan rasa buah, dsb. Pada persilangan dihibrid berlaku Hukum II Mendel karena pada saat pembentukan F2, alel-alel dari gen yang berbeda akan bergabung mengelompok secara bebas saat pembentukan gamet. Penggabungan secara bebas ini maksudnya adalah alelyang satu dapat secara bebas bergabung dengan alel dari gen yang lainnya tanpa adanya syarat tertentu. Perhatikan contoh berikut ini. Persilangan antara biji bulat kuning BBKK dengan biji kisut hijau bbkk. Biji bulat B dominan terhadap biji kisut b dan warna kuning K dominan terhadap warna hijau k. Lakukan persilangan sampai mendapat F2! Penyelesaian Sehingga, akan diperoleh F2 = bulat kuning B_K_, bulat hijau B_kk, kisut kuning bbK_, kisut hijau bbkk. Untuk perbandingan fenotipnya adalah sebagai berikut Perbandingan fenotip = bulat kuning bulat hijau kisut kuning kisut hijau = 9 3 3 1. Wow, lumayan panjang ya pembahasan kita kali ini. Bagaimana, sudah mulai pusing? Tapi tenang, pembahasan yang kelihatannya panjang dan rumit ini aslinya mudah kok, serius deh! Latihan Soal Monohibrid dan Dihibrid Nah, kalau kamu cuma baca doang tanpa latihan soal, kan nggak afdol tuh. Oleh karena itu, di bawah ini ada latihan soal nih. Langsung dicoba, ya! Nanti yang sudah dapat jawabannya, bisa langsung tulis di kolom komentar. Oke? — Oke, selesai sudah pembahasan menarik kita kali ini tentang persilangan monohibrid dan dihibrid pada Hukum Mendel. Oh iya, kalau kamu masih bingung dengan materi ini, atau kamu ingin pelajari materi ini lewat video animasi biar lebih menarik lagi belajarnya, kamu bisa lho download aplikasi Ruangguru, lalu pilih aplikasi ruangbelajar. Dijamin, belajar jadi tambah asik dan nggak membosankan! Semangat belajar, ya! Semangat meraih mimpi! Referensi Irnaningtyas. 2018. Biologi untuk SMA/MA Kelas XII Kurikulum 2013 Revisi. Jakarta Erlangga.
Menentukan perbandingan genotip dan fenotip dari hasil persilangan dihibrid Persilangan Monohibrid dan Dihibrid pada Hukum Mendel Biologi Kelas 12Penyimpangan Semu Hukum Mendel Biologi Kelas 12Percobaan MendelSuntingMenentukan Perbandingan Genotip Dan Fenotip Dari Hasil Persilangan Dihibrid Persilangan Monohibrid dan Dihibrid pada Hukum Mendel Biologi Kelas 12 Hani Ammariah Sep 5, 2021 • 9 min read Konsep Pelajaran Kelas 12 SMA Biologi XII Pada artikel Biologi kelas XII kali ini, kamu akan mempelajari tentang persilangan monohibrid dan persilangan dihibrid pada Hukum Mendel. — Halo teman-teman yang di sana! Kamu, iya kamu! Siapa di antara kamu yang tahu siapa ilmuwan yang dijuluki sebagai Bapak Genetika Modern? Jawabannya pasti sudah ketebak ya saat kamu membaca judul artikel ini. Yup! Beliau adalah Mendel. Nama lengkapnya adalah Gregor Johann Mendel . Mendel menemukan bahwa pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya mengikuti suatu pola tertentu. Penemuan itulah yang sampai sekarang kita sebut dengan nama Hukum Mendel. Nah, Hukum Mendel ini dibagi menjadi dua nih, yang pertama adalah Hukum I Mendel dan yang kedua adalah Hukum II Mendel. Baca juga Pola-Pola Hereditas Perlu kamu ketahui, Hukum I Mendel disebut juga dengan hukum segregasi bebas . Kenapa? Karena pada hukum ini, gen di dalam alel mengalami pemisahan segregasi secara bebas saat pembentukan gamet. Alel itu sendiri adalah pasangan gen yang terletak di lokus yang sama pada kromosom homolog. Di sisi lain, Hukum II Mendel disebut juga dengan hukum asortasi bebas karena gen di dalam gamet mengalami penggabungan asortasi secara bebas saat pembentukan individu baru. So, jangan sampai tertukar ya, Squad. Nah, Hukum I Mendel dan Hukum II Mendel ini diterapkan pada proses persilangan yang akan kita bahas pada artikel kali ini. Yuk, langsung saja kita simak! Sebelum kita masuk ke inti dari pembahasan kita, ada istilah-istilah dalam persilangan yang perlu kamu ketahui dulu nih. Supaya kamu nggak bingung, ayo kita kenali istilah-istilah tersebut. Apa saja ya? Ini dia! Oke, setelah kamu tahu apa saja simbol dan istilah-istilah dalam persilangan itu, sekarang yang harus kamu ketahui adalah bagaimana cara dalam menentukan gamet. Gamet yang akan kita ketahui adalah berapa jumlahnya serta apa jenisnya. Baca juga Mengenal Gen, DNA, dan Kromosom Nah, sekarang kamu sudah tahu macam-macam simbol, istilah, serta cara dalam menentukan gamet, nih. Berarti kamu sudah siap untuk masuk ke pembahasan yang kita nanti-nanti dari tadi. Daripada terlalu banyak nulis, mending langsung kita simak saja, yuk! Penyimpangan Semu Hukum Mendel Biologi Kelas 12 Hani Ammariah Nov 5, 2021 • 19 min read Konsep Pelajaran Kelas 12 SMA Biologi XII Pada artikel Biologi kelas XII kali ini, kamu akan mempelajari tentang macam-macam penyimpangan semu Hukum Mendel dan contoh kasusnya dalam kehidupan sehari-hari. — Halo! pada artikel sebelumnya, kamu telah mengetahui tentang persilangan monohibrid yang merupakan penerapan dari Hukum I Mendel dan persilangan dihibrid yang merupakan penerapan dari Hukum II Mendel, kan. Masih ingat kah kamu kalau pada kondisi normal, persilangan monohibrid menghasilkan rasio fenotip yaitu 3 1 atau 1 2 1 pada generasi F2, sedangkan persilangan dihibrid akan menghasilkan generasi F2 dengan rasio fenotip yaitu 9 3 3 1? Ekspresi kamu yang mencoba mengingat materi sebelumnya sumber Tahu nggak sih kalau pada kenyataannya, tidak semua persilangan menghasilkan rasio atau perbandingan fenotip yang sesuai dengan Hukum Mendel, lho. Pada beberapa kasus persilangan dihasilkan rasio fenotip yang menyimpang dari Hukum tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa gen dengan alel yang berbeda yang saling memengaruhi pada saat pembentukan fenotip. Meskipun demikian, aturan dasar pada Hukum Mendel tetap berlaku ya pada penentuan genotipenya, artinya penyimpangan rasio fenotip ini sebenarnya adalah modifikasi dari rasio fenotip Hukum Mendel yang biasa, sehingga hasil rasio fenotipnya dapat dikatakan sebagai penyimpangan semu Hukum Mendel. Jadi nanti akan kita lihat bahwa yang berubah cuma rasio fenotip nya, sedangkan rasio genotipenya tetap sesuai dengan hukum Mendel. Baca juga Persilangan Monohibrid dan Dihibrid pada Hukum Mendel Nah, penyimpangan semu Hukum Mendel ini terdiri dari beberapa macam nih. Apa saja ya? Yuk, langsung kita simak pada artikel di bawah ini! Percobaan MendelSunting Lihat pula Hukum Pewarisan Mendel Mendel memperoleh hasil yang tetap sama dan tidak berubah-ubah pada pengulangan dengan kombinasi sifat yang berbeda. Prinsip segregasi berlaku untuk kromosom homolog, pasangan-pasangan kromosom homolog yang berbeda mengatur sendiri pada khatulistiwa metafase I dengan cara bebas dan tetap bebas selama meiosis. Sebagai akibatnya, gen-gen yang terletak pada kromosom nonhomolog dengan kata lain gen-gen yang tidak terpaut mengalami pemilihan bebas secara meiosis. Pengamatan ini menghasilkan formulasi hukum genetika Mendel kedua, yaitu hukum pilihan acak yang menyatakan bahwa gen-gen yang menentukan sifat-sifat berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang lain, oleh sebab itu akan timbul lagi pilihan acak pada keturunannya. Individu-individu demikian disebut dihibrida atau hibrida dengan 2 sifat beda. Ciri khas karya Mendel yang cermat ialah bahwa ia lalu menanam semua ercis dan membuktikan adanya genotipe terpisah di antara setiap ercis dengan kombinasi baru pada ciri-cirinya.[1] Persilangan bertujuan untuk mempelajari hubungan antara pasangan-pasangan alela dari karakter tersebut, untuk itu tumbuhan kapri/ercis Pisum sativum yang memiliki biji bulat warna kuning BBKK disilangkan dengan kapri berbiji keriput warna hijau bbkk. Keturunan F1 dari persilangan antara dua induk/tetua yang homozigot tersebut menghasilkan hibrida heterozigot bagi kedua pasangan gen tersebut. Keturunan F1-nya BbKk adalah hibrida dan persilangan antara BBKK x bbkk adalah persilangan dihibrida[3] Contoh lain persilangan dihibrida yaitu persilangan antara biji kacang ercis berbentuk bulat dan berwarna kuning dengan biji yang yang berbentuk kisut dan berwarna hijau. Ternyata hasil keturunan silangan F1 100% berbiji bulat kuning. Jika tumbuhan hasil silangan ini dikawinkan sesamanya maka terjadilah hasil perkawinan sebagai berikut 9/16 bagian = bulat kuning 3/16 bagian = bulat hijau 3/16 bagian = kisut kuning 1/16 bagian = kisut hijau Hukum mendel II merupakan hukum pengelompokkan gen secara bebas. Berdasarkan percobaan, anggota dari sepasang gen memisah secara bebas tidak saling mempengaruhi, ketika berlangsung meiosis selama pembentukkan gamet-gamet [2] Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 3 3 yang dilakukan persilangan dihibrida dapat dipraktikan dengan menggunakan kancing genetika berwarna merah, putih, hijau, dan hitam.[2]
menentukan perbandingan genotip dan fenotip dari hasil persilangan dihibrid